Senin, 04 Juli 2011

{ love and friend }




ONE SHORT
  Cast
Lee minho
Go hyesun
Cho shiwon
Yoona

Acara televisi sore ini tak satupun membuat aku tertarik. Kalau sudah begini aku bingung entah apa yang harus aku lakukan. shiwon bersama yoona kekasihnya,
‘’sahabatku minho entah kemana?
Mall, bioskop ataupun perpustakaan, bukan tempat yang aku suka, apalagi mesti pergi sendirian.
mmm…Pantai.

Ya pantai. kayaknya hanya pantailah, tempat yang mampu membuat aku merasa damai
dan tak aneh jika aku pergi sendirian.

Kuambil jaket, lalu kusamber kunci dan pergi menuju garasi. Kukendarai mobil mama yang nganggur di sana. appa dan omma lagi keluar kota, jadi aku bisa keluar dan mengendari mobilnya dengan leluasa.
Terik panasnya matahari masih menyengat, walaupun waktu sudah menjelang sore.

Namun tak membuat manusia-manusia di Ibukota berhenti beraktivitas
meskipun di bawah terik matahari yang mampu membakar kulit.
Jalan-jalan macet seperti biasanya. Dipenuhi mobil dari merek ternama
ataupun yang sudah tak layak dikendarai.
Lalu di depan kulihat pemandangan lain lagi. Pedagang kaki lima duduk lesu menunggu pelangannya.
Krisis yang melanda membuat banyak orang hati-hati melakukan pengeluaran,
bahkan untuk membeli jajan pasar.

Walaupun tak seorang yang menghampirinya,
namun dia tetap semangat menyapa orang-orang yang lewat,
dan akhirnya ada juga satu pembeli yang menuju arah mereka.
Sekilas kulihat orang itu kok mirip sekali dengan minho.

Kugosok-gosok mataku, menyakinkan pandanganku. Kutepikan mobilku, lalu aku berhenti di tepi jalan itu.
Dengan setengah berlari, aku mengejar sosok itu.

Ah…kendaraan sore ini banyak sekali, sehingga membuat aku kesulitan untuk menyeberang jalan ini.
Tapi….! akhirnya terkejar juga, dengan nafas tersengal-sengal, kujamah bahunya.

“Minho….aa!” seruku tiba-tiba, sehingga membuatnya terkejut.

“Anda siapa?” tanya minho pura-pura tak mengenalku.

“Minho…aa.! Sekalipun kamu jadi gembel , aku akan tetap menggenalmu.” jelasku mendenggus kesal.

untuk apa kamu kemari ? tanya minho

belum sempat aku menjawab pertanayannya "minho sudah memotongnya

“Sudahlah, hyesun, jangan membuat aku terluka lagi.” tukasnya begitu sinis seraya beranjak pergi.

aku benar" kaget dengan ucapannya

“minho……knapa kamu tak pernah mau mendengarkan penjelasanku!” teriakku sekeras-kerasnya.
Namun bayangan minho semakin menjauh dan akhirnya tak kelihatan.

FLASHBACK

Minho, Shiwon dan aku adalah sahabat karib dari kecil.
Setelah tumbuh besar, aku tetap mengganggap minho adalah sahabat terbaikku,

Tapi…..! minho punya rasa berbeda dari persahabatan kami.
Yang aku cintai adalah shiwon. Ini yang membuat minho menjauhiku.
Tapi….! yang shiwon cintai bukan aku, tapi….! yoona, teman sekelasnya.
Cinta, sulit di tebak kapan dan di mana berlabuh!
Banyak orang tak bisa terima, jika cintanya ditolak,
tapi…! bukankah cinta tak mungkin dipaksa?

Tak mendapatkan cinta shiwon, tak membuatku menjauh darinya,
tapi aku akan tetap menjadi sahabat baiknya. Walaupun ada sedikit rasa tidak puas,
kadang rasa cemburu menganggu hati kecilku, saat kutahu untuk pertama kali,
orang yang shiwon cintai bukan aku tapi…! orang lain.
Aku harus bisa menerima keputusannya , walaupun terasa berat .
Bukankah, kebahagian kita adalah melihat orang yang kita cintai hidup berbahagia,
baik bersama kita atau tidak?

Tapi tidak dengan minho, dia lebih memilih, meninggalkanku, mengakhiri persahabatan manis kami. Pergi dan aku tak pernah tahu kabarnya. Tapi apapun yang terjadi,
aku akan selalu berharap suatu saat kami akan dipertemukan lagi.
Karena bagiku, cinta dan persahabatan adalah dua ikatan yang sama.
Ikatan yang tak satupun membuat aku bisa memilih satu diantaranya.

ENDFLASHBACK
***
Sudah seminggu, setiap hari, aku datang kepersimpangan ini.
Berharap bisa melihat sosok Lee minho lewat disekitar sini lagi.

Tapi,.. minho hilang bagai ditelan bumi. Aku hampir putus asa.
Aku sudah capek menunggu, akhirnya aku bangun dan ingin beranjak pergi.

Knapa tiba-tiba, indera keenamku, memberiku insting, kalau minho ada di sekitarku.
Kubalikan kepala, kulihat sosok minho setengah berlari menyeberang jalan di belakang posisiku.
Aku berlari menggejar sosok itu. Kuikuti dia dari belakang. Aku ingin tahu dimana dia berada sekarang.

Akhirnya kulihat minho, masuk ke sebuah gang kecil, kuikuti terus ,
sampai akhirnya dia masuk ke sebuah rumah yang sangat sederhana.

“Knapa minho lebih memilih hidup disini, daripada di rumah megah orangtuanya?”
”Knapa dia, tinggalkan kehidupannya, yang didambakan banyak orang?”

”Knapa semua ini dia lakukan?”

“Knapa?”

Banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepalaku.
Setelah dia masuk kurang lebih 10 menit, aku masih berdiri terpaku dalam lamunanku,
dengan pertanyaan-pertanyan yang jawabanya ada pada minho.

Aku dikejutkan suara seekor anak anjing jalanan, yang tiba-tiba menggonggong.
Aku memberanikan diri memencet bel di depan rumahnya itu.

“Siapa?” terdengar suara dari balik pintu.

Aku diam, tak memberi jawaban. Setelah beberapa saat aku lihat minho pelan-pelan membuka pintu. Nampak keterkejutannya saat melihatku, berada di depannya.

“minho…aa boleh aku masuk?” tanyaku hati-hati.

“Maukah kamu memberikan sahabatmu ini, segelas air putih.” ujarku lagi.

Tanpa bicara, minho mengisyaratkan tangannya mempersilahkan aku masuk..
Aku masuk keruangan tamu. Aku terpana, kulihat rumah yang tertata rapi.
Rumah kecil dan sederhana ini ditatanya begitu rapi, begitu nyaman.
Kulihat serangkai bunga matahari plastik terpajang di sudut ruangan itu.

“minho, kamu tak pernah lupa, aku adalah penggagum bunga -bunga matahari.” gumanku.
Dan sebuah akuarium yang di penuhi ikan berwarna-warni, rumput-rumput dari plastik dan karang-karang di dalamnya. minho tahu betul aku penggagum keindahan pantai dan laut.
Walaupun hal-hal ini dulunya, setahuku, kamu tak menyukainya.

Kulihat juga banyak foto persahabatan kami yang di bingkainya
dalam bingkai kayu yang sangat indah, terpajang di dinding ruang tamu ini.

Bulir-bulir air mataku, perlahan-lahan mulai tak mampu aku bendung.
Aku benar-benar terharu dengan semua yang minho lakukan.
Begitu besar cinta minho buatku. Kupeluk dia, yang aku sendiri tak tahu,
apakah pelukan ini adalah pelukkan seorang sahabat ataupun sudah berubah menjadi pelukan yang berbeda?

‘’’Awalnya minho kaget,

 Namun beberpa detik kemudian, akhirnya dia membalas pelukanku, dan memelukku lebih erat lagi ,
seakandia ingin menumpahkan segala rindu yang sudah hampir tak terbendung dalam hatinya.
Kami menghabiskan sore ini dengan berbagi cerita, pengalaman kami masing-masing
selama perpisahan yang hampir 2 tahun lamanya

dan akhirnya minho mengajakku makan, ke sebuah restoran kecil yang sering
dikunjunginya seorang diri, di dekat rumahnya.
Terdengar alunan tembang-tembang romatis , suasana hening,
membuat kami terbuai dalam hangatnya suasana malam itu.

***

Sekarang minho sudah tahu, shiwon sudah bersama yoona.
Kami sekarang menjadi 4 sekawan. yoona juga telah menjadi anggota genk kami.
Ternyata setelah aku mengenalnya lebih lama, yoona adalah sosok yang sangat baik hati, menyenangkan, ramah dan peduli dengan sahabat.

Ah…menyesal aku tak mengenalinya lebih dalam sejak dulu.

“Minho , biarlah semua berjalan apa adanya, mungkin cinta akan pelan-pelan muncul dari hatiku.” ujarku suatu hari, saat minho mengungkit masalah ini lagi.
“Oke, aku akan selalu menunggumu. Sampai kapapun.
Karena tak akan ada seorangpun yang mampu membuatku jatuh cinta .

Hanya kamu yang mampu membuat aku damai, tenang dan bahagia.” jelasnya panjang lebar
Sekarang aku memiliki tiga orang sahabat baik. Tak akan ada lagi hari-hariku yang kulalui dengan kesendirian, kesepian dan kerinduan.
Hampir setiap akhir pekan, kami menghabiskan waktu bersama,
ke pantai, ke puncak ataupun hanya sekedar berkaroke di rumah sederhana minho.
Hidup dengan tali persahabatan yang hangat, membuat hidup semakin berarti dan lebih bahagia.

***

Waktu berjalan begitu cepat. Tiga tahun sudah berlalu. Kebaikan-kebaikan minho mampu membuat aku merasa butuh dan suka akan keberadaannya di sampingku.
Rasa itu pelan-pelan tumbuh tanpa kusadari dalam hatiku.
Aku jatuh hati padanya setelah melalui banyak peristiwa. Cinta datang, dalam dan dengan kebersamaan.
Apalagi dengan sikap dan perbuatan yang ditunjukannya. Membuat aku merasa, tak akan ada cinta laki-laki lain yang sedalam cinta Lee minho.

Minho melamar aku di akhir tahun & aku menerimanya karna sudah tidak ada lagi
alsan bagi aku untuk menolaknya.
Kami pun melangsungkan pernikahan di salah satu gereja secara sederhana,
yang hanya di hadiri keluarga & sahabat terdekat kami.
Setalah upacara pemberkatan pernikahan kami, minho mengularkan sebuah kotak kecil dari saku
Jasnya yang berisi 2 buah cincin yang sederhana
tpi…! Tidak mengurangi ke’indhan cincin itu.

Setelah menyematkannya di jari manisku, minho memberikan satu cincin lagi kepadaku,
Aku pun menymabut  & melakukan hal yang sma menymatkannya cincin tersebut di jari manisnya.
Pedeta kemudian berkata , sekarang di persilahkan pengatin pria untuk mencium pengatin wanitanya..
Disinilah kegugupan mulai kurasakan karna selama kami menjalani hubungan kami belum pernah sekali pun melakukan ciuman mulut,

karna minho sangat mengharga’i/menghormati Seoranga perempuan baginya akan lebih indah kalo kita melakukannya nanti setelah semuanya resmi.
Aku masih berdiri mematung di depannya  minho mulai menundukkan wajahnya kea rah bibirku, perlahan aku memajamkan mataku , kemudian aku merasakan bibirnya menyentuh bibirku dengan lembut mulanya, tpi…! Beberapa detik kemudian ciumannya berubah dengan sedkit lumatan,  terdengar tepukan tangan dari tamu” yg menghadri acara pernikahan kami.

Sekitar 5 menit ciuman berlangsung , minho pun menyudahinya tapi…! sebelum dia menjauh dari wajahku dia membisikkan sebuah kata di telingaku SARANGHE YEOPO . J

Sekarang minho bukan hanya kekasih yang paling aku cintai tapi juga seorang suami sekaligus sahabat sejati dalam hidupku.

Sekian dulu ya ff one short aku yg geje ini, semoga aja kalian menyuka’inya J


Tidak ada komentar:

Posting Komentar